Updeta Rusuh di Manokwari Papua Barat, penyebab Rusuh dan Video Aksi Kapolda Minta Warga Tentang

“Saya minta kepada saudara-saudara kita yang ada di Papua. Papua adalah bagian dari anak bangsa Indonesia, saudara-saudara kita sendiri, kita semua bersaudara. Jangan mudah terpancing dengan berita yang tidak benar” kata Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D., Senin (19/8/2019).

Abadiplay .Pernyataan itu dikeluarkan Kapolri saat Manokwari dalam kondisi mencekam. Pada kerusuhan itu, sejumlah fasilitas publik dibakar, satu di antaranya kantor DPRD di Manokwari.

Berbagai upacara dilakukan untuk meredam persoalan ini.

Satu di antaranya langkah yang digunakan kepolisian adalah melalui dialog.

Seperti yang dilakukan Kapolda Papua Barat Brigjen Pol. Drs. Herry Rudolf Nahak yang berhadapan dengan para pengunjuk rasa di Manokwari.

Mengenakan rompi, Herry Rudolf Nahak berdialog dengan warga.

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara soal kericuhan di Manokwari, Papua.

Keduanya sama-sama mengimbau agar masyarakat Papua bisa bersabar dan menahan diri atas insiden persekusi dan rasisme yang terjadi di Surabaya dan Malang.

Namun, Wapres Kalla sekaligus meminta aparat keamanan untuk menjelaskan secara terbuka akar masalah yang terjadi.

Presiden Jokowi memberi pernyataan relatif singkat, yakni hanya 1 menit 10 detik.

Presiden Joko Widodo dengan baju adat suku Sasak NTB memberi hormat seusai menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI dalam Sidang Bersama DPD-DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Jokowi mengatakan, ia menyadari ada sebuah insiden dugaan persekusi dan rasisme di Surabaya dan Malang, Jawa Timur yang telah membuat tersinggung masyarakat di Papua.

Kepala Negara pun meminta masyarakat Papua memaafkan pihak-pihak yang telah membuat mereka terluka hatinya.

“Jadi, saudara-saudaraku. Pace, mace, mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, yang paling baik adalah saling memaafkan,” kata Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/8/2019).

“Emosi itu boleh, tetapi, memaafkan itu lebih baik. Sabar itu juga lebih baik,” sambung dia.

Jokowi memastikan, pemerintah akan terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan seluruh masyarakat Papua dan Papua Barat.

Namun, saat ditanya terkait proses hukum terhadap pihak-pihak yang telah memicu kemarahan masyarakat Papua, Jokowi enggan berkomentar lebih jauh.

“Ya, cukup,” kata Jokowi.

Kerusuhan di Manokwari diawali dengan warga yang menggelar aksi dengan membakar ban bekas dan meletakan pohon di sejumlah ruas jalan di dalam kota Manokwari, Senin (19/8/2019) pagi.

Aksi tersebut berlangsung anarkistis setelah massa mulai melemparkan pecahan botol dan merobohkan papan reklame, serta traffic light di pinggir Jalan Yos Sudarso.

Bahkan, kantor DPRD Papua Barat pun ikut menjadi sasaran amuk warga dengan dibakar.

Tidak hanya itu, massa juga melakukan pelemparan terhadap Kapolda Papua Barat dan Pangdam XVIII/Kasuari, yang datang untuk menenangkan massa.

Untuk menghentikan aksi anarkistis tersebut, polisi terpaksa menembakkan gas air mata.

Meski sempat terjadi kerusuhan, kepolisian dibantu TNI terus melakukan negosiasi dan akhirnya bisa mengendalikan situasi.

Demonstrasi yang berujung kerusuhan ini berawal dari penangkapan 43 mahasiswa Papua di Surabaya.

Sebelum adanya penangkapan, terjadi bentrok antara mahasiswa Papua dan organisasi masyarakat di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019).

Bentrok itu sendiri dipicu informasi yang beredar soal adanya mahasiswa Papua yang merusak dan membuang bendera merah putih ke selokan. Namun pihak mahasiswa membantah informasi itu.

Pihak kepolisian juga sampai saat ini belum menetapkan satu pun tersangka pelaku pengerusakan bendera. Sebanyak 43 mahasiswa Papua yang semula ditangkap kini sudah dibebaskan.

Dari serangkaian peristiwa di Surabaya itu, mahasiswa Papua merasa menjadi korban persekusi, diskriminasi, bahkan rasisme. Hal inilah yang memicu kemarahan masyarakat di Papua.

author

Back to top