Pengabdian Helviani, Menjadi Bidan di Daerah Pelosok Selama Bertahun-tahun hingga Makin Tangguh.!!

TAK semua orang sanggup mengemban amanah di tengah keterbatasan. Tetapi tidak bagi Helviani, yang menjadi seorang bidan di daerah pelosok selama bertahun-tahun.

Pengalamannya di masa lalu yang bertumpuk pelajaran hidup menjadikannya lebih kuat menghadapi masa selanjutnya.

Dahulu sewaktu dirinya masih sekolah, dengan kondisi keterbatasan ekonomi dan orang tuanya sakit-sakitan.

Helviani berpikir menjadi bidan sangatlah mulia karena masa lalu yang sulit, baginya menolong orang yang juga sulit ekonomi juga membuatnya merasa lebih baik.

Bidan yang biasa disapa Evi ini mengikuti program bidan desa PTT (Pegawai Tidak Tetap) pada 2007.

Helviani kini mengabdi di daerah pelosok, butuh waktu sekitar dua jam perjalanan dari ibukota kabupaten.

Kini ia bertugas di Kelurahan Tebo Jaya, Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo. Persisnya tempat praktik Bidan Helviani beralamat di Jalan Jeruk, RT 01,RW 01, Dusun Tebo Jaya.

Ia mengenang, ketika menjalani tugasnya sebagai bidan. Saat itu kondisi jalan yang ia lalui rusak. Alhasil, ia berkali-kali jatuh dari sepeda motor, tetapi itu tidak membuat ia menjadi trauma.

“Saya sudah memilih untuk di tempatkan di sini dan saya harus bertanggung jawab dengan pilihan saya,” ujarnya.

Evi tak jarang bertemu dengan pasien-pasien yang tidak mampu membayar dengan uang.

Pasiennya ada yang hanya bisa membayar dengan hasil pertanian seperti cabe dan pisang, bahkan meninggalkan KTP.

Tetapi bagi Helviani hal tersebut tidak menjadi masalah, sebab yang terpenting orang itu tertolong.

Dia punya dua prinsip dalam menyampaikan konseling untuk calon ibu. Pertama, menghargai pengetahuan yang dimilikinya dan tidak menghakimi.

“Kadang kan perbedaan pendapat dengan beberapa ibu adalah hal yang wajar bagi saya, biasanya saya melakukan pendekatan kekeluargaan dan secara pribadi untuk pelan-pelan memberikan edukasi terutama dalam hal pemberian gizi,” ungkapnya.

“Untuk mempersiapkan gizi anak, harus dipersiapkan sedini mungkin. Itu diawali dengan gizi saat kehamilan. Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain itu, ditambah dengan multivitamin serta susu untuk ibu hamil, agar mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan,” paparnya.

Ia mengingatkan, dalam kondisi ini, peran suami dan keluarga sangat penting untuk mendukung ibu.

“Termasuk selama menyusui, agar psikologis ibu terjaga sehingga produksi ASI tidak terganggu,” pungkasnya.

Memang, seorang bidan selain memberikan pendampingan kesehatan fisik, juga mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan.

Tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat.

Kegiatan ini mencakup pendidikan pra kehamilan dan persiapan menjadi orangtua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi, dan edukasi akan pentingnya pemberian nutrisi lengkap untuk anak dan peran Ibu dalam menstimulasi perkembangan anak agar ia bisa tumbuh dan berkembang memiliki potensi prestasi untuk menjadi generasi maju penerus bangsa.

Dia juga berpesan pada para calon ibu agar lebih sadar akan hak reproduksinya, misalnya sang ibu sanggup mempunyai berapa anak, atau kapan sang ibu mau mengikuti Keluarga Berencana.

“Kadang harus tanya suami dulu, bukannya egois tetapi itu juga untuk kesehatan reproduksinya sendiri,” kata perempuan kelahiran tahun 1986 ini.

Helviani juga menuturkan, prinsip kesehatan perempuan siklusnya dari masa konsepsi hingga lansia. “Dari fisik hingga psikis,” tutupnya. (adv/bai)

Alamat Praktik :

Jalan Jeruk RT 01, RW 01, Kelurahan Tebo Jaya, Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.

Kata Mereka:

Ibu Dr. Emi Nurjasmi M.Kes, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

“Peran bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan strategis adalah memberikan pelayanan Kesehatan Ibu Anak, Keluarga Berencana dan kesehatan reproduksi perempuan mulai dari memberikan pelayanan atau edukasi pada masa sebelum nikah, pra hamil, pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, asuhan masa nifas, asuhan bayi baru lahir sampai usia 5 tahun dan prasekolah serta pelayanan KB dan kesehatan reproduksi perempuan.

Bidan bekerja pada setiap fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun swasta mulai dari fasilitas kesehatan tingkat primer (Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan jaringannya, klinik, praktik mandiri bidan) di Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Kebijakan penempatan bidan di setiap desa untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sehingga bidan ada di tengah-tengah masyarakat dan bersama masyarakat”.

Ibu Nur Hasanah ( Ibu dari Delvia Nashifa ) – Pasien Bidan Helpiani

“Bagi saya, ibu Bidan Evi selain baik dan ramah, beliau juga sangat sabar dan cekatan ketika menangani pasien-pasiennya. Beliau juga sosok yang hebat, selain bertugas di daerah pelosok seperti di sini, beliau tetap semangat dan selalu memberikan yang terbaik buat para ibu saat berkonsultasi dengannya, termasuk saya sendiri. Sudah lama saya berkonsultasi dan ditolong persalinan oleh bidan Evi, hingga anak saya sudah lahir pun, beliau masih membimbing saya untuk selalu memberikan ASI eksklusif dan rajin mengkonsumsi makanan yang sehat sehingga ASI yang dihasilkan mengandung gizi yang baik untuk pertumbuhan anak saya”. (adv)

author

Back to top