Dosen Teknik Elektro UGM Meninggal Gantung Diri, Pihak Kampus Ungkap Korban Alami Kondisi Ini!!!

Dosen aktif jurusan teknik elektro Universitas Gadjah Mada atau UGM, Budi Setianto ditemukan meninggal dalam posisi tergantung.

Diduga, dosen UGM itu nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Ia ditemukan tewas tergantung di rumahnya di Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta, Kamis (15/8/2019).

Kabar mengenai dosen UGM gantung diri ini sempat beredar melalui aplikasi perpesanan instan WhatsApp.

“Dosen ugm gantung diri.. An. BUDI SETYANTO
Dosen/Gubes elektro UGM,” begitu bunyi pesan tersebut.

Sebuah foto juga beredar dalam pesan berantai tersebut.

Terlihat petugas kepolisian tengah berada di sebuah rumah.

Garis polisi juga sudah terpasang, terlihat dalam foto tersebut.

Kepala Bagian humas dan Protokoler UGM Dr Iva Ariani mengatakan, almarhum memang dosen aktif UGM.

Almarhum adalah dosen di fakultas teknik elektro.

“Memang benar ada kabar duka itu, pertama dari berita di grup lalu kami coba cek data administrasii. Benar almarhum dosen FT UGM,” ujar Iva saat dihubungi wartawan.

Menurut informasi pihak kampus, almarhum memang memiliki riwayat gangguan kesehatan.

Kendati demikian, belum diketahui secara pasti motif di balik almarhum dosen UGM itu nekat mengakhiri hidupnya.

“Kita tunggu hasil pemeriksaan kepolisian, kita akan infokan nanti selanjutnya,” kata Iva.

Pria di Bogor Gantung Diri

Yuni Devinawati (38) sangat kaget ketika melihat Rudi Hermawan (40) dan putranya DHD (8), sudah tergantung tak bernyawa di rumahnya, Senin (5/8/2019).

Mereka adalah Warga Kampung Panjang, Bojong Gede, Kabupaten Bogor.

Yuni menemukan keduanya tergantung dalam posisi berhadap-hadapan menggunakan seutas tali berwarna merah dan putih.

Penemuan Rudi Hermawan dan putranya itu pertama kali berawal dari kecurigaan

Yuni yang seorang guru adalah adik kandung Rudi, ia curiga lantaran korban tak terlihat sejak pagi hari.

Kanit Reskrim Polsek Bojong Gede, Iptu Jajang Rahmat menuturkan, biasanya Rudi mengantar anak adiknya ke sekolah.

“Tapi pagi ini korban tidak terlihat sampai anak adiknya itu naik ojek online ke sekolah,” ujar Jajang Rahmat di lokasi kejadian, Senin, dikutip TribunJabar.id dari Tribunnews Bogor.

Pagi harinya, Yuni juga berangkat ke sekolah untuk mengajar.

Ia baru pulang sekitar pukul 11.30 WIB.

Setelah pulang mengajar, Yuni mencoba mendatangi rumah Rudi.

Rumah Rudi memang berada di pinggir rumah Yuni.

Namun, tak ada respons dari Rudi saat Yuni memanggil.

Yuni pun memutuskan untuk melihat ke dalam rumah Rudi melalui lubang ventilasi udara yang ada di dalam rumah.

“Ternyata diketahui korban dan anaknya diketahui tergantung di kaso rumah dalam keadaan meninggal,” kata Jajang Rahmat.

Polisi telah melakukan olah TKP.

Hasilnya, diperoleh kesimpulan bahwa Rudi dan putranya gantung diri.

Diduga, keduanya nekat gantung diri sehari sebelumnya atau pada pagi harinya.

Jajang Rahmat mengatakan, setelah dilakukan pemeriksaan luar, tak ada tanda-tanda kekerasan atau tindak pidana pada Rudi.

Tak hanya itu, barang-barang milik Rudi di rumahnya juga masih utuh, seperti laptop, ponsel, hingga sepeda motor.

Sesuai prosedur, kata Jajang, pihaknya melaksanakan permohonan visum dan otopsi.

“Namun ada permohonan dari keluarga untuk tidak dilakukan dan menganggap ini musibah,” ujarnya.

Rudi nekat gantung diri diduga lantaran merasa putus asa ditinggal wafat oleh istrinya tahun lalu.

Sejak saat itu, Rudi harus membesarkan dan mengurus putra semata wayangnya.

Yuni bahkan sempat menawarkan untuk mencarikan pengganti mendiang istri Rudi.

Namun, Rudi tak mau.

Rudi yang bekerja wiraswasta mengaku kepada Yuni ingin fokus membesarkan putra semata wayangnya yang tuna wicara dan tuna netra.

“Korban ini sudah dua kali berupaya menyembuhkan anaknya sampai ke RS Cipto dan ada vonis dokter bahwa kebutaan anaknya itu sudah permanen,” kata Jajang.

Hingga akhirnya, tanda-tanda Rudi ingin ‘meninggalkan dunia’ sudah terlihat sejak sekitar setahun yang lalu.

Rudi kerap menunjukkan tanda-tanda tersebut lewat pesan di grup WhatsApp keluarga.

“Beberapa kali di grup WA korban ini kerap putus asa, korban ingin bertemu dengan istrinya yang telah meninggal satu tahun yang lalu,” ujar Jajang

author

Back to top